Sabtu, 19 Februari 2011

Cerpen TSI Jambi:

Linda Herawati Harahap (Jambi)


DI GUMPUNG



Setelah Situs Sunyi Ini Kau Tinggalkan   
Kembali lengang. Sunyi mencuat di setiap sudut. Di antara menapo dan reruntuhan stupa. Angin mendesir-desir melagukan tembang rindu yang giris. Mengabarkannya pada batang-batang lansium domesticum yang tengah berbunga indah. Nun di kejauhan terdengar seloroh arus Batanghari yang bercanda dengan sampan-sampan nelayan yang tengah melais dayung di permukaannya. Dan aku di sini sendiri. Meringkuk di sisi makara yang telah terkikis musim. Kami menyimpan sunyi yang sama. Sunyi yang tak sanggup melahirkan sajak.
Aku masih mengenangmu dengan sempurna. Pemilik mata cerlang yang dinaungi alis serupa sepasang kepak sayap burung camar. Mata yang menyembunyikan danau sepi di dalamnya. Aku juga masih mampu mengingat dengan jelas lengkung senyummu yang hangat. Genang kenangan yang tak kunjung kering dalam ingatanku sehingga aku selalu bisa menggambar peta wajahmu di dinding-dinding candi, juga pada gumpalan-gumpalan awan di biru paras langit, setiap kali kangen yang kudus itu menghampiri heningku ini.
Apakah yang kini sedang kau lakukan? Sudahkah kau ceritakan padanya, pemilik hatimu yang lembut; tentang aku yang jatuh cinta padamu. Tulus dan penuh. Masihkah kau mengingatku? Ataukah sepenggal cerita di Gumpung telah kehilangan ruang di bilik ingatanmu? Angin kembali mendesir-desir. Melekapkan hawa dingin ke seluruh penjuru.

Sejenak Dalam Mimpi Di Percandian Muaro Jambi
Jika nanti kau tiba kembali di kotamu, tolong jangan sampaikan salam padanya. Cukup katakan jika aku sudah jatuh cinta padamu. Tulus dan penuh. Ini serius. Sebaiknya ia tahu apa yang sepenuhnya kurasakan. Karena aku tak ingin hidup menyembunyikan sesuatu. Apalagi menyembunyikan perasaanku padamu dari pengetahuannya. Jangan gusar,.aku percaya meski mungkin tak mudah pada akhirnya ia pasti akan memaafkan aku. Sebab aku sungguh-sungguh mencintaimu. Tulus dan penuh. Jadi tolong katakan sajalah padanya.
          Sejak semula di detik kau hunjamkan pandangan tepat ke mataku, aku sudah terjatuh sepenuhnya. Takluk pada sihir matamu. Terjerembab ke palung senyum hangat yang acapkali kau lepaskan saat tatapan kita berpapasan. Aku jatuh cinta dengan hati yang sungguh-sungguh terkulai tak berdaya. Meski sejak percakapan pertama itu kau sudah katakan jiwamu telah terpaut di kota asal, aku tetap tak mungkin menghentikan cinta. Karena ia hadir dengan begitu manis di pelataran hari-hari tanpa pernah kurencanakan. Hatiku terpuruk padamu; kesepian yang begitu indah.
          Keriuhan kecil di jantungku oleh luapan rasa gembira sesudah perjumpaan kita, tentu tak akan kumakamkan begitu saja hanya karena dia. Pemilik hatimu yang lembut. Ini cuma perkara ruang dan waktu. Jika saja aku yang terlebih dahulu menjemput takdir perjumpaanku denganmu, mungkin cerita ini akan berbalik. Dan asal kau tahu, jika itu sampai terjadi, aku tak akan melarang siapapun untuk  mencintaimu. Bagiku itu dosa yang tak terhingga besarnya. Sebab apalagi yang lebih menyakitkan selain kau tak dapat mencintai apa yang teramat kau cintai. Jadi jelaskan saja padanya bahwa aku mencintaimu dengan cinta yang tulus dan penuh. Aku hanya ingin dia tahu ada orang lain yang juga mencintaimu. Itu saja.

Situs Gumpung Suatu Ketika
Aku ingat bagaimana terkagum-kagumnya kau ketika menatapku kali pertama di Gumpung. Kau mendekat dengan langkah perlahan. Di matamu yang cerlang itu tersirat jelas ketakjuban sekaligus rasa tak percaya. Aku tahu jika aku telah membuatmu terpesona. Kau semakin mendekat. Kali ini aku bahkan bisa mendengar dengus nafasmu. Sedikit ragu kau ulurkan ujung jemarimu hendak menyentuhku.
“Kaukah itu Pradjnaparamita?” tanyamu sedikit gemetar.
Aku tersenyum dan menganggukkan dagu.
“Kau mengenaliku?!” tanyaku setengah tak percaya.  
“Kau lebih cantik dari yang kukira..” tukasmu lagi.
Aku tahu kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu. Kembali aku tersenyum. Menatap sepasang mata cerlangmu yang dinaungi alis serupa kepak sayap burung camar. Mata yang menyembunyikan  danau sepi di dalamnya. Inilah momen penting itu. Detik di mana aku jatuh dan takluk sepenuhnya pada sihir matamu. Terjerembab pada palung senyummu yang teramat hangat itu.
Bukan kali pertama kudengar orang-orang mengagumi keindahanku. Memuja keelokan paras dan tubuhku. Tapi caramu menatapku. Caramu menyentuhkan jemari di punggung lenganku. Caramu mengucapkan kata cantik. Sungguh berbeda. Aku bisa merasakan kepolosan serta kejujuran yang tak pernah kujumpai sebelumnya.
Kau berjalan mengelilingiku.  Saat berada di belakangku aku tahu, kau tengah mengagumi ornamen-ornamen yang menghias punggungku. Padma merah yang kugenggam bergetar ketika tersenggol siku lenganmu ketika kau memutariku.
“Namaku Hanggara,” ujarmu ketika  sudah kembali berdiri di hadapanku.
Terik yang sejak tadi terasa pedas mulai melunak. Semilir angin menggoyangkan  reranting lansium domesticum yang mulai dirimbuni bunga-bunga putih-karang yang tersusun dalam untaian nan cantik. Pohon-pohon tinggi dengan pokok lurus dan kulit batang berwarna abu-abu itu banyak tumbuh di sekitar bangunan-bangunan candi.
“Sudah lama aku menantikan saat-saat seperti ini. Ketika seseorang menyapa keheninganku yang purba...”
Aku menatapmu dalam-dalam.
“Ada seseorang….” 
Dengan agak tergesa kau melarikan pandang ke bawah. Menatapi rerumputan tebal yang menutupi permukaan tanah. Tak berapa lama wajahmu kembali terangkat lalu memandangku sejurus.
Aku tersenyum sembari mengisyaratkan jika aku mengerti maksudmu. Meski di ujung senyumku itu jika saja kau sempat menangkapnya, terasa helaan berat. Kegembiraan kerap hanya selintas menempatkan hadirnya di bilah waktu untuk kemudian terenggut begitu saja. Namun kusenyumi juga sebab aku nyaris sudah karib dengan hal semacam itu. Bilangan musim yang bertukar sepurba warna langit mengajariku terbiasa berulangkali memiliki kehilangan.
“Bolehkah aku memotretmu?!” pintamu memecahkan kebekuan yang kau buat sendiri.
“Untuk apa, Hanggara?  Kau bahkan boleh membawaku….”
Kulihat keterkejutan kembali menyemburat penuh di matamu. Kau bergerak mundur selangkah.
“Aku hanya bertandang dan ada seseorang yang menantiku di kota asal…” tukasmu gusar.
“Baiklah, toh jiwaku bisa turut menyertaimu ke manapun.”
Hening. Kau tak mengucapkan sepatah katapun. Lanskap Candi Tinggi di timur laut, mengeruh. Isyarat gerimis mulai mendentingkan intro lagu hujan yang murung. Kau masih mematung di depanku.
“Kau menyesali perjumpaan ini, Hanggara?!”  tanyaku pelan.
Kutatap cerlang matamu yang begitu indah. Tak ada senyum di bibirmu. Tapi kehangatan itu masih terasa melingkup dan menyungkupi tubuh andesitku yang mulai gemetar.
“Tidak. Tentu saja tidak,” sambarmu cepat. “Maaf kutinggal sebentar. Aku harus kembali ke rombongan,” sambungmu lagi.
Aku tak begitu faham dengan maksud ucapanmu. Tapi saat kau bergegas menjauh lalu bergabung dengan sekumpulan orang-orang yang berpakaian sepertimu, kurasa aku mengerti jika kau  tidak berkunjung seorang diri ke situs sunyi ini.
Dari kejauhan kulihat kau bercakap-cakap dengan beberapa orang. Mungkin aku yang tengah kalian perbincangkan. Sebab beberapa kali kulihat kau menunjukkan ujung jarimu ke Gumpung. Tak berapa lama kau kembali mendekat bersama seseorang bertubuh gempal. Senyum lelaki itu mengingatkanku pada Dwarapala.
“Di sini, Bang As. Saya melihatnya di sini.” Matamu mengerjap dan lelaki dengan senyum seperti Dwarapala itu memandang ke arah yang kau tunjuk sebelum kembali mengalihkan pandangannya padamu.
“Di situs Gumpung ini, memang tempat ditemukannya arca  pradjnaparamitha, Konon menurut beberapa ikonograf, itu arca terindah kedua setelah arca penjelmaan Ken Dedes peninggalan Kerajaan  Singosari yang sekarang ada di museum nasional.” Lelaki gempal itu bertutur panjang lebar.
Kulihat kau tercenung.
“Sebaiknya kita bergabung dengan yang lain, Mas. Lihatlah! Sepertinya gerimis akan segera tiris,” ajaknya.
“Bang As, duluan saja. Saya segera menyusul,” sahutmu.
Begitu lelaki bertubuh gempal dengan senyum seperti Dwarapala itu berlalu, aku melompat dari balik makara di dekat anak tangga lalu menyentuh pundakmu dari belakang.
“Maaf jika mengagetkanmu,” tukasku.
“Dari mana saja kau Pradjnaparamitha?”
Kuacuhkan saja pertanyaanmu.
“Kau tau jika dahulu di tempat ini banyak sekali menapo dan I-Tsing dalam pelayarannya dari Kanton ke Nagapattan India pernah singgah di  sini,” tukasku.
Kau menggeleng. “Ini kunjungan pertamaku. Belum banyak yang kuketahui…” sahutmu pelan. “Bahkan tentangmu hanya sempat kubaca selintas di brosur yang diberikan padaku dalam perjalanan ke tempat ini,” lanjutmu lagi.
“I-Tsing datang memperdalam ajaran Budha dan menterjemahkan kitab suci berbahasa sanskerta itu ke dalam bahasa Cina. Dahulu situs ini adalah pusat peribadatan yang penting. Budha Tantrayana berkembang pesat di sini. Sayang kisah itu tenggelam seiring ekspedisi militer Singosari ke Swarnabhumi.”
Aku terus saja bercerita sembari menikmati raut tampanmu yang terkesima. Sesaat kemudian senyum hangat yang sebelumnya sempat kulihat kembali mengembang pelan di sudut bibirmu.
“Jadi bawalah aku serta. Hanggara. Selamatkan aku dari kejahatan musim yang menggerus. Lindungi aku dari sekedar menjadi artefak sejarah penghuni museum yang sepi pengunjung. Jangan biarkan aku terperangkap dalam kotak kaca seperti mikrolith-mikrolith itu. Beri aku sedikit ruang di ceruk hatimu…” pintaku dengan suara parau.
Kau terdiam. Lama.
“Sudah kukatakan ada seseorang….” ujarmu lagi.
“Tapi aku telah mencintaimu. Tulus dan penuh. Katakan saja itu padanya. Aku hanya meminta sedikit ruang di ceruk hatimu.”
“Aku tak bisa.”
“Ia tak akan marah, Hanggara. Percayalah.”
Aku terus berusaha meyakinkanmu.
“Maafkan aku, Pradjnaparamitha….”
“Bagaimana bisa aku  memaksamu,” desahku berat. Tapi bolehkah aku minta satu hal?!”
Kau menatap tepat ke manik mataku.
“Jika kau kembali ke kota asalmu, maukah kau menceritakan tentang aku padanya. Pemilik hatimu yang lembut itu. Katakan jika ada seseorang yang mencintaimu di Gumpung. Situs sunyi yang terkubur lumut ribuan tahun dan hidup kembali oleh sebuah perjumpaan denganmu. Maukah kau berjanji, Hanggara?! Karena itu akan jadi penanda jika pernah ada waktu di sela sejarah yang masih akan terus ditulis ini bahwa kita pernah saling mengenal dan aku jatuh cinta kepadamu. Tulus dan penuh. Sejak aku takluk pada sihir matamu. Terjerembab pada palung senyummu yang hangat….”  
Suaraku tertelan di tenggorokan. Dengan sudut mata penuh genangan air,  kulihat kau mengangguk. Sihir matamu meleleh menjadi gerimis bening.
“Kelak kau akan tau, Hanggara. Aku hanyalah pahatan andesit yang lahir dari celupan musim di satu masa ketika hutan di Swarnabhumi  masih begitu rimbun….”
Aku berbisik lirih sebelum menghilang di balik reruntuhan stupa.
Hujan telah jatuh. Angin berhembus lebih kencang. Reranting lansium domesticum semakin keras bergoyang. Sebagian dedaunnya luruh mencium punggung tanah yang basah.



Pada Hari Keberangkatanmu
          Kau sudah berkemas lalu keluar dari kamar dengan menyeret sebuah travel bag berwarna hitam pekat. Sebuah ransel lusuh yang cukup besar memberati pundak kananmu. Aku menantimu di ujung lorong sebelum lift.
Kau terkesiap.
          “Aku hanya ingin mengucapkan selamat jalan,” tukasku pelan.
          Kau menatapku dengan cuaca yang tak sanggup kuterka. Aku membalas tatapanmu dalam diam yang lama. Sebab kali ini aku benar-benar merasa akan kehilangan mata cerlangmu yang dinaungi alis serupa kepak sepasang sayap burung camar. Mata yang menyembunyikan danau sepi di dalamnya.
          “Mengapa, bengong di situ, Hang?”
          Suara temanmu yang tiba-tiba muncul entah dari mana menggunting momen kita dengan begitu lekas. Kau tersenyum dan segera bergerak menuju lift bersamanya.
          Aku mengejarmu hingga ke dalam lift. Di telingamu kembali aku berbisik;
          “Jika kau tiba di kota asalmu nanti. Jangan lupa kirimi aku puisi…”

                                                                            JAMBI, Agustus 2008
Catatan
Dwarapala: Arca dengan muka senyum khas yang ditemukan di sekitar Candi Gedong I dan Candi Gedong II.
Gumpung :Nama salah satu candi di situs Muaro Jambi.
Lansium domesticum: Nama latin dari pohon buah duku yang tinggi batangnya 11-20 meter.
Melekapkan : Merapatkan hingga menmpel.
Menapo : Gundukan tanah yang mengandung struktur bangunan bata candi dalam areal 17 km atau 1.700 Ha.
Mikrolith : Peninggalan prasejarah berupa alat perkakas dari batu obsidian dalam ukuran kecil-kecil.
Pradjnaparamitha : Arca yang melambangkan ilmu pengetahuan dari batuan andesit setinggi 0,80 meter yang ditemukan di sekitar situs Gumpung.
Padma  : Bunga teratai merah yang melambangkan asal kehidupan dalam genggaman arca pradjnaparamitha.
         

Linda Herawati Harahap, lahir di Jambi 14 Juni 1976. Puisi dan cerpennya dipublikasikan di beberapa harian daerah dan di majalah Annida. Salah satu cerpennya masuk dalam 12 cerpen terbaik dalam sayembara penulisan cerita pendek yang diselenggarakan oleh Hans Advertising di Medan. Cerpennya terangkum dalam antologi Senarai Batanghari, bunga rampai Temu Sastrawan Indonesia 1 di Jambi. Saat ini mengabdikan diri sebagai guru SD Negeri 134/IV Kota Jambi sambil menempuh studi S2-nya di IAIN STS Jambi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar