Sabtu, 19 Februari 2011

Cerpen TSI Jambi:

Cerpen Purhendi (Jawa Tengah)


LELAKI YANG MENDAYUNG CADIK KE ILIR 


Lelaki itu, dua orang, Tua-Tua Tengganai, akhirnya kembali mendayung cadiknya ke ilir, mengikuti arus surut Batanghari yang perlahan tapi pasti. Meski begitu, keduanya merasakan kayuh dayungnya demikian berat dan menyesakkan dada. Hal itu bukan karena cadiknya yang kini sarat muatan, tetapi lebih pada kekecewaan dan keputusasaan yang sepertinya tidak akan pernah selesai mencederai warganya, para warga yang dinamakan orang luar sebagai Suku Anak Dalam.
”Apa yang mesti kta katakan pada warga kita.” ucap lelaki pertama dengan nada pasrah.
”Ya, seperti yang sudah-sudah, kita katakan saja apa adanya. Toh kita yakin, sebenarnya warga kita pun sudah tahu hal yang akan terjadi. Kita tinggal memperjelasnya saja.” jawab lelaki kedua, juga tanpa ekspresi.
”Ya, pilihannya selalu saja dua, dimukimkan atau terusir. Mereka tidak pernah memahami bagaimana sebenarnya perasaan dan jiwa kita.”
”Atau memang, kita juga tidak pernah memahami perasaan dan jiwa mereka.”
”Dan mereka selalu punya alasan yang dirasa mereka lebih tepat, atas nama pembangunan dan peradaban.”
“Heh, pembangunan! Peradaban! Sungguh manis benar dua alasan itu. Mereka kira kita tidak mengerti pembangunan? Mereka kira kita tidak mengerti peradaban?”
“Kita selalu saja, seolah-olah ada pada pihak yang perlu dikasihani dan dibodohi.”
“Tidakkah mereka juga berpikir bahwa mereka pun perlu dikasihani dan bodoh?”
”Ya, zaman telah menggerus segalanya. Merusak segalanya. Mengatasnamakan segalanya.”
Kedua lelaki itu terus mendayung sampannya perlahan mengikuti arus Batanghari, sungai besar yang membelah Provinsi Jambi, daerah yang dulu dikenal sebagai Negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah. Mereka memang tak perlu merasa terburu-buru. Tak ada yang perlu mereka kejar meskipun sebentar lagi senja akan datang.
Sebelumnya, tadi pagi-pagi sekali. Kedua lelaki itu telah turun dari pedalaman. Terus menuju salah satu sungai kecil yang kian surut, salah satu anak Sungai Batanghari. Perahu cadik telah pula menunggu kedatangan mereka. Sehari-hari, perahu kecil itu biasa digunakan untuk menonda. Juga digunakan sebagai alat transportasi utama, baik untuk mengunjungi suku lain maupun untuk menjual atau membarter hasil hutan yang didapat, seperti madu, jenis lalapan tertentu, maupun binatang buruan.
Dengan cadik itu, pada hari yang begitu pagi, dan matahari belum muncul di bilik timur, kedua lelaki itu mewakili sukunya untuk memenuhi undangan dari pusat kota. Seorang pejabat dari kota telah mewartakan bahwa para warga Suku Anak Dalam yang tinggal di Ilir akan lebih diperhatikan oleh pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Karenanya, kedua tetua itu pun telah pula mempersiapkan usulan rencana yang diinginkan warganya. Namun yang paling pokok ada dua hal. Pertama, mereka minta diberi kebebasan tinggal di pedalaman. Kedua, wilayah hutan yang mereka tinggali tidak lagi dirambah oleh mereka yang menamakan dirinya pemegang HPH.
Sebenarnya mereka pesimis untuk datang ke pusat kota. Sebab, dari dulu juga, dua hal utama itu tidak pernah terlaksana. Keberadaan mereka yang menghindari hiruk-pikuknya zaman justru merupakan ajang empuk untuk berbagai proyek orang kota. Ada yang mengatasnamakan pemerintah, ada juga yang mengatasnamakan LSM. Namun siapa yang benar-benar peduli dengan perasaan mereka?
Akan tetapi, harapan mereka toh tetap hidup. Itulah yang membuat mereka untuk terus bertahan menelusuri rimba raya, dari waktu ke waktu, dari belukar ke belukar, dari ladang ke ladang, dari hutan ke hutan. Ya, harapan untuk hidup dengan cara mereka, bukan dengan cara orang lain, dari masa ke masa. Karena itu, pagi itu pun mereka dengan semangat mengayuh cadiknya ke arah ulu, melawan arus Batanghari perlahan tapi pasti, ke arah pusat kota, mendahului terbit matahari.
Tidak sampai tengah hari, kedua lelaki itu pun telah sampai di penambatan perahu di bibir Batanghari, di dekat pusat kota. Beberapa orang berpakaian dinas telah pula menunggunya dan menyambut kehadirannya.
Tidak lama kemudian, keduanya pun dipersilakan masuk pula ke sebuah mobil dinas yang telah dipersiapkan menjemput kedatangannya. Kedua lelaki itu, sesaat merasa menjadi tamu penting dan dihormati. Tapi entahlah, sebab terselip juga suatu perasaan yang tidak seperti itu. Aneh. Janggal. Tidak nyaman. Mungkin karena pakaian serba hitam yang begitu sederhana. Tanpa alas kaki. Ada juga hiasan di kepala, kain ikat kepala ala kadarnya. Atau mungkin entah karena apa.
Sampai akhirnya, keduanya pun disambut di sebuah kantor. Ada juga juru bicara khusus untuk menerjemahkan kata-kata mereka yang tidak begitu dimengerti orang luar. Dialog pun terjadi. Entah sekadar basa-basi, entah benar-benar sebuah harapan. Namun jelas, seorang pejabat di kantor itu mengkampanyekan partainya, memaparkan program pembangunannya, menawarkan kesejahteraan, menawarkan peningkatan pelayanan pendidikan dan kesehatan, dan tentu saja berusaha mengelak soal HPH dan tentang izin bermukim di dalam hutan. Sebab, katanya, semua itu merupakan kewenangan pemerintah pusat dan perlu perundangan khusus yang akan digodok oleh para wakil rakyat.
Semakin lama, ketika seorang pejabat kian bersemangat mempromosikan partainya dan program-program pembangunannya, kedua lelaki yang mewakili sukunya itu justru semakin tidak mengerti dan semakin tidak masuk di akal. Sebab selama ini, yang berjanji demikian sudah sangat banyak. Tampaknya, sang pejabat sebuah partai itu pun mulai paham dengan roman muka kedua tamunya. Pembicaraan pun akhirnya disudahi meski agak terpaksa dan kurang puas. Kedua lelaki itu lantas dijamu dengan nasi kotak yang telah dipesan dari sebuah restoran paling mahal di kota itu. Tidak lupa dua botol air mineral pun disodorkan pula beserta pipetnya. Orang-orang yang lain yang ada di ruang itu pun bersijingkat mengambil nasi kotak yang memang telah disediakan.
Ada perasaan ragu pada kedua lelaki itu untuk membuka nasi kotak. Bukan karena aneh, bukan karena asing, bukan pula karena tidak lapar, tetapi keduanya tiba-tiba teringat warganya yang kini mungkin tengah bertebaran di belantara belukar dan perbukitan. Namun, sebagai rasa hormat terhadap orang yang telah menjamunya, keduanya pun mencoba menghabiskan sajian yang telah disuguhkan itu.
Ketika segalanya dianggap telah selesai, tidak ada pembicaraan khusus lagi, sang pejabat itu menitipkan beberapa bendera partainya untuk dikibarkan di mana pun kedua tamunya itu tinggal. Tak lupa pula, beberapa kardus yang berisi minyak goreng, mi instan, dan raskin. Ditambah lagi, beberapa amplop putih untuk warga yang katanya be-el-te dari pemerintah.
Selanjutnya, semua barang itu pun dimasukkan ke dalam mobil yang tadi telah menjemput. Kembali semuanya meluncur ke pinggir sungai. Terus memuat semua titipan ke atas cadik. Dan kemudian, cadik dan kedua penumpangnya itu pun, disertai beberapa bendera partai dan kardus oleh-oleh, meluncur kembali di atas Batanghari, diiringi lambaian tangan orang-orang yang tadi mengantarnya. Saat itu, matahari telah menggelincir ke arah barat.
”Bagaimana dengan barang-barang titipan ini?” lelaki yang pertama melanjutkan pembicaraan dan kembali mengingatkan.
”Kita serahkan semuanya pada warga kita. Terserah mereka mau menggunakan atau tidak, mau menerima atau tidak.”
”Ya, kita memang tidak dapat memungkiri, kita juga perlu bahan makanan ini.”
”Apalagi sekarang musim kemarau, binatang buruan semakin langka, umbi-umbian pun susah tumbuh.”
”Ya, sarang madu pun semakin susah dicari. Pohon-pohon sialang makin susah ditemukan, tak ada lagi tempat tawon madu tinggal.”
Cadik yang kini sarat dengan muatan itu pun membelok dari Sungai Batanghari yang surut. Terus menelusuri sebuah anak sungai yang airnya lebih surut lagi, namun cukuplah mampu dilewati biduk itu.
Senja kian menilap. Anak sungai yang surut beserta cadik dan segenap muatannya itu pun kian menghilang di keremangan senja dan belukar.


Banjaran, September 2008









PURHENDI. Lahir di Desa Banjaran (Jateng), 11 Maret 1968. Menamatkan FKIP Unsri jurusan Bahasa Indonesia tahun 1993. Telah 20 tahun turut mengisi dunia sastra di Sumatra Selatan dan menjadi guru Bahasa Indonesia di berbagai SMP dan SMA, juga di berbagai bimbingan belajar di Palembang/Sumatra Selatan. Menulis cerpen, puisi, dan esai di berbagai media massa ibu kota dan daerah. Di antaranya pernah dimuat di Horison, Femina, Republika, Media Indonesia, Harian Ekonomi Neraca, Album Cerpen, Asah Asih Asuh, Romansa, Annida, Ceria Remaja, Anita Cemerlang, Lampung Post, Singgalang, Taruna Baru, Sriwijaya Post, Sumatera Ekspres, Transparan, Suara Rakyat Semesta, Detak Jakarta, Monica, Berita Pagi, Palembang Ekspres, dll. Lebih dari 20 bukunya sudah terbit, baik yang berupa kumpulan puisi, cerpen, maupun esai, baik tunggal maupun bersama. Telah lebih dari 20 kali pula memenangkan sayembara penulisan cerpen, puisi, dan esai, baik tingkat lokal maupun nasional. Sejak awal September 2008, hijrah ke kampung halaman di Desa Banjaran bersama keluarga.

Cerpen TSI Jambi:

Linda Herawati Harahap (Jambi)


DI GUMPUNG



Setelah Situs Sunyi Ini Kau Tinggalkan   
Kembali lengang. Sunyi mencuat di setiap sudut. Di antara menapo dan reruntuhan stupa. Angin mendesir-desir melagukan tembang rindu yang giris. Mengabarkannya pada batang-batang lansium domesticum yang tengah berbunga indah. Nun di kejauhan terdengar seloroh arus Batanghari yang bercanda dengan sampan-sampan nelayan yang tengah melais dayung di permukaannya. Dan aku di sini sendiri. Meringkuk di sisi makara yang telah terkikis musim. Kami menyimpan sunyi yang sama. Sunyi yang tak sanggup melahirkan sajak.
Aku masih mengenangmu dengan sempurna. Pemilik mata cerlang yang dinaungi alis serupa sepasang kepak sayap burung camar. Mata yang menyembunyikan danau sepi di dalamnya. Aku juga masih mampu mengingat dengan jelas lengkung senyummu yang hangat. Genang kenangan yang tak kunjung kering dalam ingatanku sehingga aku selalu bisa menggambar peta wajahmu di dinding-dinding candi, juga pada gumpalan-gumpalan awan di biru paras langit, setiap kali kangen yang kudus itu menghampiri heningku ini.
Apakah yang kini sedang kau lakukan? Sudahkah kau ceritakan padanya, pemilik hatimu yang lembut; tentang aku yang jatuh cinta padamu. Tulus dan penuh. Masihkah kau mengingatku? Ataukah sepenggal cerita di Gumpung telah kehilangan ruang di bilik ingatanmu? Angin kembali mendesir-desir. Melekapkan hawa dingin ke seluruh penjuru.

Sejenak Dalam Mimpi Di Percandian Muaro Jambi
Jika nanti kau tiba kembali di kotamu, tolong jangan sampaikan salam padanya. Cukup katakan jika aku sudah jatuh cinta padamu. Tulus dan penuh. Ini serius. Sebaiknya ia tahu apa yang sepenuhnya kurasakan. Karena aku tak ingin hidup menyembunyikan sesuatu. Apalagi menyembunyikan perasaanku padamu dari pengetahuannya. Jangan gusar,.aku percaya meski mungkin tak mudah pada akhirnya ia pasti akan memaafkan aku. Sebab aku sungguh-sungguh mencintaimu. Tulus dan penuh. Jadi tolong katakan sajalah padanya.
          Sejak semula di detik kau hunjamkan pandangan tepat ke mataku, aku sudah terjatuh sepenuhnya. Takluk pada sihir matamu. Terjerembab ke palung senyum hangat yang acapkali kau lepaskan saat tatapan kita berpapasan. Aku jatuh cinta dengan hati yang sungguh-sungguh terkulai tak berdaya. Meski sejak percakapan pertama itu kau sudah katakan jiwamu telah terpaut di kota asal, aku tetap tak mungkin menghentikan cinta. Karena ia hadir dengan begitu manis di pelataran hari-hari tanpa pernah kurencanakan. Hatiku terpuruk padamu; kesepian yang begitu indah.
          Keriuhan kecil di jantungku oleh luapan rasa gembira sesudah perjumpaan kita, tentu tak akan kumakamkan begitu saja hanya karena dia. Pemilik hatimu yang lembut. Ini cuma perkara ruang dan waktu. Jika saja aku yang terlebih dahulu menjemput takdir perjumpaanku denganmu, mungkin cerita ini akan berbalik. Dan asal kau tahu, jika itu sampai terjadi, aku tak akan melarang siapapun untuk  mencintaimu. Bagiku itu dosa yang tak terhingga besarnya. Sebab apalagi yang lebih menyakitkan selain kau tak dapat mencintai apa yang teramat kau cintai. Jadi jelaskan saja padanya bahwa aku mencintaimu dengan cinta yang tulus dan penuh. Aku hanya ingin dia tahu ada orang lain yang juga mencintaimu. Itu saja.

Situs Gumpung Suatu Ketika
Aku ingat bagaimana terkagum-kagumnya kau ketika menatapku kali pertama di Gumpung. Kau mendekat dengan langkah perlahan. Di matamu yang cerlang itu tersirat jelas ketakjuban sekaligus rasa tak percaya. Aku tahu jika aku telah membuatmu terpesona. Kau semakin mendekat. Kali ini aku bahkan bisa mendengar dengus nafasmu. Sedikit ragu kau ulurkan ujung jemarimu hendak menyentuhku.
“Kaukah itu Pradjnaparamita?” tanyamu sedikit gemetar.
Aku tersenyum dan menganggukkan dagu.
“Kau mengenaliku?!” tanyaku setengah tak percaya.  
“Kau lebih cantik dari yang kukira..” tukasmu lagi.
Aku tahu kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu. Kembali aku tersenyum. Menatap sepasang mata cerlangmu yang dinaungi alis serupa kepak sayap burung camar. Mata yang menyembunyikan  danau sepi di dalamnya. Inilah momen penting itu. Detik di mana aku jatuh dan takluk sepenuhnya pada sihir matamu. Terjerembab pada palung senyummu yang teramat hangat itu.
Bukan kali pertama kudengar orang-orang mengagumi keindahanku. Memuja keelokan paras dan tubuhku. Tapi caramu menatapku. Caramu menyentuhkan jemari di punggung lenganku. Caramu mengucapkan kata cantik. Sungguh berbeda. Aku bisa merasakan kepolosan serta kejujuran yang tak pernah kujumpai sebelumnya.
Kau berjalan mengelilingiku.  Saat berada di belakangku aku tahu, kau tengah mengagumi ornamen-ornamen yang menghias punggungku. Padma merah yang kugenggam bergetar ketika tersenggol siku lenganmu ketika kau memutariku.
“Namaku Hanggara,” ujarmu ketika  sudah kembali berdiri di hadapanku.
Terik yang sejak tadi terasa pedas mulai melunak. Semilir angin menggoyangkan  reranting lansium domesticum yang mulai dirimbuni bunga-bunga putih-karang yang tersusun dalam untaian nan cantik. Pohon-pohon tinggi dengan pokok lurus dan kulit batang berwarna abu-abu itu banyak tumbuh di sekitar bangunan-bangunan candi.
“Sudah lama aku menantikan saat-saat seperti ini. Ketika seseorang menyapa keheninganku yang purba...”
Aku menatapmu dalam-dalam.
“Ada seseorang….” 
Dengan agak tergesa kau melarikan pandang ke bawah. Menatapi rerumputan tebal yang menutupi permukaan tanah. Tak berapa lama wajahmu kembali terangkat lalu memandangku sejurus.
Aku tersenyum sembari mengisyaratkan jika aku mengerti maksudmu. Meski di ujung senyumku itu jika saja kau sempat menangkapnya, terasa helaan berat. Kegembiraan kerap hanya selintas menempatkan hadirnya di bilah waktu untuk kemudian terenggut begitu saja. Namun kusenyumi juga sebab aku nyaris sudah karib dengan hal semacam itu. Bilangan musim yang bertukar sepurba warna langit mengajariku terbiasa berulangkali memiliki kehilangan.
“Bolehkah aku memotretmu?!” pintamu memecahkan kebekuan yang kau buat sendiri.
“Untuk apa, Hanggara?  Kau bahkan boleh membawaku….”
Kulihat keterkejutan kembali menyemburat penuh di matamu. Kau bergerak mundur selangkah.
“Aku hanya bertandang dan ada seseorang yang menantiku di kota asal…” tukasmu gusar.
“Baiklah, toh jiwaku bisa turut menyertaimu ke manapun.”
Hening. Kau tak mengucapkan sepatah katapun. Lanskap Candi Tinggi di timur laut, mengeruh. Isyarat gerimis mulai mendentingkan intro lagu hujan yang murung. Kau masih mematung di depanku.
“Kau menyesali perjumpaan ini, Hanggara?!”  tanyaku pelan.
Kutatap cerlang matamu yang begitu indah. Tak ada senyum di bibirmu. Tapi kehangatan itu masih terasa melingkup dan menyungkupi tubuh andesitku yang mulai gemetar.
“Tidak. Tentu saja tidak,” sambarmu cepat. “Maaf kutinggal sebentar. Aku harus kembali ke rombongan,” sambungmu lagi.
Aku tak begitu faham dengan maksud ucapanmu. Tapi saat kau bergegas menjauh lalu bergabung dengan sekumpulan orang-orang yang berpakaian sepertimu, kurasa aku mengerti jika kau  tidak berkunjung seorang diri ke situs sunyi ini.
Dari kejauhan kulihat kau bercakap-cakap dengan beberapa orang. Mungkin aku yang tengah kalian perbincangkan. Sebab beberapa kali kulihat kau menunjukkan ujung jarimu ke Gumpung. Tak berapa lama kau kembali mendekat bersama seseorang bertubuh gempal. Senyum lelaki itu mengingatkanku pada Dwarapala.
“Di sini, Bang As. Saya melihatnya di sini.” Matamu mengerjap dan lelaki dengan senyum seperti Dwarapala itu memandang ke arah yang kau tunjuk sebelum kembali mengalihkan pandangannya padamu.
“Di situs Gumpung ini, memang tempat ditemukannya arca  pradjnaparamitha, Konon menurut beberapa ikonograf, itu arca terindah kedua setelah arca penjelmaan Ken Dedes peninggalan Kerajaan  Singosari yang sekarang ada di museum nasional.” Lelaki gempal itu bertutur panjang lebar.
Kulihat kau tercenung.
“Sebaiknya kita bergabung dengan yang lain, Mas. Lihatlah! Sepertinya gerimis akan segera tiris,” ajaknya.
“Bang As, duluan saja. Saya segera menyusul,” sahutmu.
Begitu lelaki bertubuh gempal dengan senyum seperti Dwarapala itu berlalu, aku melompat dari balik makara di dekat anak tangga lalu menyentuh pundakmu dari belakang.
“Maaf jika mengagetkanmu,” tukasku.
“Dari mana saja kau Pradjnaparamitha?”
Kuacuhkan saja pertanyaanmu.
“Kau tau jika dahulu di tempat ini banyak sekali menapo dan I-Tsing dalam pelayarannya dari Kanton ke Nagapattan India pernah singgah di  sini,” tukasku.
Kau menggeleng. “Ini kunjungan pertamaku. Belum banyak yang kuketahui…” sahutmu pelan. “Bahkan tentangmu hanya sempat kubaca selintas di brosur yang diberikan padaku dalam perjalanan ke tempat ini,” lanjutmu lagi.
“I-Tsing datang memperdalam ajaran Budha dan menterjemahkan kitab suci berbahasa sanskerta itu ke dalam bahasa Cina. Dahulu situs ini adalah pusat peribadatan yang penting. Budha Tantrayana berkembang pesat di sini. Sayang kisah itu tenggelam seiring ekspedisi militer Singosari ke Swarnabhumi.”
Aku terus saja bercerita sembari menikmati raut tampanmu yang terkesima. Sesaat kemudian senyum hangat yang sebelumnya sempat kulihat kembali mengembang pelan di sudut bibirmu.
“Jadi bawalah aku serta. Hanggara. Selamatkan aku dari kejahatan musim yang menggerus. Lindungi aku dari sekedar menjadi artefak sejarah penghuni museum yang sepi pengunjung. Jangan biarkan aku terperangkap dalam kotak kaca seperti mikrolith-mikrolith itu. Beri aku sedikit ruang di ceruk hatimu…” pintaku dengan suara parau.
Kau terdiam. Lama.
“Sudah kukatakan ada seseorang….” ujarmu lagi.
“Tapi aku telah mencintaimu. Tulus dan penuh. Katakan saja itu padanya. Aku hanya meminta sedikit ruang di ceruk hatimu.”
“Aku tak bisa.”
“Ia tak akan marah, Hanggara. Percayalah.”
Aku terus berusaha meyakinkanmu.
“Maafkan aku, Pradjnaparamitha….”
“Bagaimana bisa aku  memaksamu,” desahku berat. Tapi bolehkah aku minta satu hal?!”
Kau menatap tepat ke manik mataku.
“Jika kau kembali ke kota asalmu, maukah kau menceritakan tentang aku padanya. Pemilik hatimu yang lembut itu. Katakan jika ada seseorang yang mencintaimu di Gumpung. Situs sunyi yang terkubur lumut ribuan tahun dan hidup kembali oleh sebuah perjumpaan denganmu. Maukah kau berjanji, Hanggara?! Karena itu akan jadi penanda jika pernah ada waktu di sela sejarah yang masih akan terus ditulis ini bahwa kita pernah saling mengenal dan aku jatuh cinta kepadamu. Tulus dan penuh. Sejak aku takluk pada sihir matamu. Terjerembab pada palung senyummu yang hangat….”  
Suaraku tertelan di tenggorokan. Dengan sudut mata penuh genangan air,  kulihat kau mengangguk. Sihir matamu meleleh menjadi gerimis bening.
“Kelak kau akan tau, Hanggara. Aku hanyalah pahatan andesit yang lahir dari celupan musim di satu masa ketika hutan di Swarnabhumi  masih begitu rimbun….”
Aku berbisik lirih sebelum menghilang di balik reruntuhan stupa.
Hujan telah jatuh. Angin berhembus lebih kencang. Reranting lansium domesticum semakin keras bergoyang. Sebagian dedaunnya luruh mencium punggung tanah yang basah.



Pada Hari Keberangkatanmu
          Kau sudah berkemas lalu keluar dari kamar dengan menyeret sebuah travel bag berwarna hitam pekat. Sebuah ransel lusuh yang cukup besar memberati pundak kananmu. Aku menantimu di ujung lorong sebelum lift.
Kau terkesiap.
          “Aku hanya ingin mengucapkan selamat jalan,” tukasku pelan.
          Kau menatapku dengan cuaca yang tak sanggup kuterka. Aku membalas tatapanmu dalam diam yang lama. Sebab kali ini aku benar-benar merasa akan kehilangan mata cerlangmu yang dinaungi alis serupa kepak sepasang sayap burung camar. Mata yang menyembunyikan danau sepi di dalamnya.
          “Mengapa, bengong di situ, Hang?”
          Suara temanmu yang tiba-tiba muncul entah dari mana menggunting momen kita dengan begitu lekas. Kau tersenyum dan segera bergerak menuju lift bersamanya.
          Aku mengejarmu hingga ke dalam lift. Di telingamu kembali aku berbisik;
          “Jika kau tiba di kota asalmu nanti. Jangan lupa kirimi aku puisi…”

                                                                            JAMBI, Agustus 2008
Catatan
Dwarapala: Arca dengan muka senyum khas yang ditemukan di sekitar Candi Gedong I dan Candi Gedong II.
Gumpung :Nama salah satu candi di situs Muaro Jambi.
Lansium domesticum: Nama latin dari pohon buah duku yang tinggi batangnya 11-20 meter.
Melekapkan : Merapatkan hingga menmpel.
Menapo : Gundukan tanah yang mengandung struktur bangunan bata candi dalam areal 17 km atau 1.700 Ha.
Mikrolith : Peninggalan prasejarah berupa alat perkakas dari batu obsidian dalam ukuran kecil-kecil.
Pradjnaparamitha : Arca yang melambangkan ilmu pengetahuan dari batuan andesit setinggi 0,80 meter yang ditemukan di sekitar situs Gumpung.
Padma  : Bunga teratai merah yang melambangkan asal kehidupan dalam genggaman arca pradjnaparamitha.
         

Linda Herawati Harahap, lahir di Jambi 14 Juni 1976. Puisi dan cerpennya dipublikasikan di beberapa harian daerah dan di majalah Annida. Salah satu cerpennya masuk dalam 12 cerpen terbaik dalam sayembara penulisan cerita pendek yang diselenggarakan oleh Hans Advertising di Medan. Cerpennya terangkum dalam antologi Senarai Batanghari, bunga rampai Temu Sastrawan Indonesia 1 di Jambi. Saat ini mengabdikan diri sebagai guru SD Negeri 134/IV Kota Jambi sambil menempuh studi S2-nya di IAIN STS Jambi.

Cerita Mini (CerMin): PENGAKUAN CINDY


Cerpen: Dimas Arika Mihardja

CYNDY namaku. Lahir dan besar di kota ini. Aku tidak perawan lagi. Jangan kaget. Sewaktu berusia 15 tahun kuserahkan kegadisanku pada Myzakar, seorang akademisi yang hobinya makan daun muda. Lelaki itu sebenarnya beinisial MK, tetapi aku lebih suka menyebutnya Myzakar sebab dialah lelaki pertama yang menghidangkan zakar yang begitu besar di malam “Pesta”. Ya, pesta. Kami hanya berdua, menyantap hidangan di ranjang penuh gelombang dan goyang. Malam itu aku dijemput Myzakar di tempat indekost.
“Bersiaplah. Pukul 20.00 aku jemput kau”, begitu sapa Myzakar melalui handphone-nya.
“Bolehkah aku ditemani Winda?”, tanyaku ragu.
“Sendirian saja. Bukankah kita mau pesta?”
Ya, tepat pukul 20.00 kijang Innova silver berhenti tepat di depan pagar tempat kost. Klakson mobil itu berbunyi lirih, seakan berbisik memanggil-manggil namaku “Cindy, Cindy, Cindy”. Aku keluar kamar kost mengenakan payung motif bunga. Aku ingat betul saat itu gerimis tipis turun dari langit seperti airmata bidadari yang terluka hatinya. Badanku panas dingin begitu aku bersitatap dengan lelaki yang kelak kukenal sebagai Myzakar.
Pintu depan Innova terbuka. Aku masuk dengan berbagai macam perasaan. Ada perasaan gentar. Ada perasaan gemetar. Ada perasaan takut. Ada pula perasaan kalut. Aroma parfum Italiana menyambutku ramah dari interior mobil. Tapi sesungguhnya batinku gerah. Sebab ini hari sesungguhnya kubenci. Hari yang membuatku kehilangan harga diri. Hari yang membuat sekujur badanku nyeri. Waktu itu Myzakar membawaku memasuki sebuah hotel berbintang di kota ini.
Memasuki kawasan hotel adalah pengalaman baru bagiku. Apa yang akan terjadi di dalam kamar hotel? Aku berpikir dengan perasaan takut dan kalut. Siapkah aku melayani seorang lelaki bernama Myzakar yang tinggi besar? Aku baru berusia lima belas tahun waktu itu. Aku memang pernah mengalami mimpi indah. Mimpi yang membawaku hidup dalam gelimang kemewahan, jauh dari penderitaan yang kualami.
Oh, ya aku dilahirkan dari keluarga miskin. Orang tuaku kerjanya serabutan. Bapak bekerja sebagai kuli angkut di Pasar Angso Duo dan emak menjadi buruh nyuci di tetangga. Aku tidak pernah berkesempatan mencicipi hidup enak . Aku menjadi malas pergi sekolah, sebab kedua orang tuaku senyatanya tak sanggup mengongkosi sekolah 10 orang anaknya. Aku sebagai wanita yang berparas lumayan, segera memutuskan untuk mencari uang dengan mudah. Satu-satunya pekerjaan yang membuatku senang lantaran mendapatkan gelimang uang adalah menjadi pekerja seks komersial. Orang menyebutnya PSK.
Keputusanku menjadi PSK makin bulat ketika dari tangan Myzakar terulur lima belas juta untuk kegadisanku. Waktu itu aku memang merasakan sakit saat Myzakar merenggut kegadisanku. Aku menjerit lirih. Ada bercak darah di atas sprei. Myzakar setelah mendengus lalu mendengkur. Saat Myzakar mendengkur, aku bergegas mandi di hotel. Kupandangi diriku di cermin. Aku seakan tidak percaya atas segala yang telah kulakukan. Tak terasa, buliran air mata menetes membasahi pipiku. Aku menangis. Memangis menyesali apa yang telah kulakukan bersama Myzakar. Namun, aku segera menghentikan tangisku. Aku berusaha tersenyum. Ya, tersenyum. Namun di cermin aku melihat senyumku menjadi aneh. Seperti senyum yang memendam kepedihan.
***
CYNDY namaku. Aku lahir dan menjadi tua  di kota ini. Aku tidak perawan lagi. Meski wajahku penuh dengan make up, tapi garis keetuaan tak dapat kusembunyikan. Seperti ranjang tua, aku tidak lagi merasakan nikmatnya dunia. Tubuh kian renta. Duit tidak ada. Aku duduk diaduk oleh aneka perasaan berkecamuk. Dulu ada Myzakar, lelaki yang menyurukkan aku di lembah hitam ini. Ada rasa penyesalan merambati hatiku. Kenapa penyesalan selalu datang terlambat? Kenapa aku begitu mudah tergoda dunia glamour, dunia gemerlap penuh dengan lampu kerjap?
Cindy namaku. Seperti kupu-kupu. Aku pernah punya sayap warna-warni. Sebagai kupu-kupu aku tak bosan mengisap sari bunga. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain sekedar menuruti naluri mendapatkan uang. Uang. Uang. Uang. Itulah yang ada dalam pikiranku saat itu. Uang. Uang. Uang. Uanglah yang membuat hidupku goyang. Kini aku telah memasuki usia senja. Sejak sore duduk mangkal di bebatuan Tanggo Rajo, menanti mangsa. Kemanakah Myzakar? Kemanakah lelaki mata keranjang yang menghambur-hamburkan uang demi nafsu menggebu?
Cindy namaku. Kini aku teronggok bagai jagung bakar dengan rasa pedas, asin, dan manis.  Seperti jagung bakar, seluruh tubuhku telah kuolesi dengan aneka parfum. Tapi di manakah lelaki yang bisa menemaniku berbagi rasa senang dan menyodorkan uang? Ah, taman ini tak lagi indah. Sampah-sampah berserakan. Lampu-lampu taman tak lagi mampu menyembunyikan betapa risau wajahku. Anak-anak dan remaja yang bersendau gurau hanyalah membuat hatiku kacau, sebab sudah setua ini aku masih sendiri. Sendiri teronggok seperti jagung bakar yang dibalut berbagai macam rasa.
Iseng kupencet handphone-ku. Entah nomor siapa yang terpencet aku tidak peduli. Aku butuh uang. Siapa tahu orang yang kukontak adalah lelaki semacam Myzakar yang rela menghambur-hamburkan uang.
“Halo...”, suara di sebuah handphone. Suara laki-laki.
“Ya, maaf, bukankah Anda semalam menelefon saya?” jawabku dengan bahasa yang sesantun-santunnya. Suaraku memang tergolong merdu, seperti suara gadis remaja yang manja.
“Maaf, siapakah Anda?” Lelaki di ujung sana mulai ragu. “Apakah yang bisa saya bantu?”
“ Begini bang. Jika abang punya sedikit waktu saya pingin ketemu.”
“Di mana? Kapan?”
“Sekarang. Ada bisnis yang bisa kita bicarakan”.

***
 CINDY namaku. Aku lahir, besar, tua, dan barangkali mati di kota ini. Setelah bisnisku sebagai PSK tidak lagi membuahkan hasil aku justru memanen penyakit yang ditakuti oleh setiap orang. Aku terkena HIV/AIDS. Kini aku terbaring tak berdaya di sebuah kamar rumah orang tuaku di kampung. Tak seorang pun mau mendekatiku. Tak juga bapak, tak juga emak. Saudara-saudaraku mengucilkanku lantaran penyakit yang kuderita amat berbahaya dan bisa menulari mereka dengan hanya kontak badan.
Badanku demam. Panas dingin silih berganti. Aku kembali teringat sosok Myzakar dengan senyumnya yang khas. Aneka wajah lelaki lain hadir silih berganti seperti silhuet yang senyatanya menyileti perasaanku. Wajah Myzakar tak pernah lepas dari pikiranku. Terlebih-lebih ketika aku amat memuja karya pujangga di daerah ini. Banyak karya pujangga dari kota ini kukoleksi. Ada karya almarhum Ari Setya Ardhi, E.M. Yogiswara, Iif Ranupane, Acep Syahril, Iriani R. Tandy. Aku paling suka membaca novel-novel karya Meliana K. Tansri seperti “Layang-layang Biru”, “Belajar Terbang”, atau “Kupu-kupu”. Ketiga novel ini menggambarkan kerapuhan sesuatu, seperti kerapuhan jiwaku. Aku masih ingat, kata-kata Myzakar suatu malam, “Untuk apa kau baca karya-karya macam itu? Semua itu hanyalah sampah’. ‘Sampah?’ tanyaku saat itu, ‘Bukankah ini karya putra daerah ini yang mesti dihargai?’ ‘Tidak ada gunanya mengoleksi sampah’.  Aku bingung. Apa salahnya aku menyukai karya sastra yang dihasilkan oleh putra daerah ini?
Aku tergolek tak berdaya. Kamar rumah sempit ini adalah penjara bagiku. Kemanakah lelaki membawa pergi dan membelajakan uangnya? Di manakah Myzakar?
Seperti sastrawan Jambi, aku berusaha menulis sesuatu di ruang keterbatasanku. Di atas lipatan-lipatan kertas bekas kutulis sebuah catatan harian sebagai refleksi mengenai hidup dan kehidupan. Bacalah, semoga ada hikmah berharga dari situ. Inilah catatanku yang kuberi judul “Menuju Pemukiman Baru”.
“Kita, manusia, laksana embun yang bergantung pada ujung-ujung daun hijau. Bening dan suci dalam fitrah Allah Subhanallahu wa Taala. Namun ketika esok hari matahari terbit, terbit pula harapan kita untuk menguap dan terbang menuju hadirat-Nya. Aku dan hidupku hanyalah setitik embun yang menawarkan seberkas kesegaran. Embun itu kini telah menguap dan menghadap kepada zat Yang Maha Zat, menikmati kelezatan-Nya, bersemayam di pemukiman baru. Aku menguap pergi untuk menemukan ruang samadi yang jauh dari segala kepentingan duniawi.
Menurut kodrat-Nya kalian diciptakan dan difitrahkan untuk mendharma baktikan diri bagi insan yang sedang gencar melakukan pembangunan. Ingatlah, bangsamu saat ini sedang menghadapi persoalan besar menuju era tinggal landas. Kalian jangan hanya tinggal di landasan, sebagai korban. Jangan. Jangan tempatkan dirimu sebagai objek pembangunan. Tempatkan dirimu sebagai subjek yang berkemampuan. Jangan tempatkan dirimu pada keraguan, kesedihan, dan kegundahan. Lihatlah, sebentar lagi matahari globalisasi akan bersinar di bumi.
Tugas utama kalian saat ini adalah memerangi kemiskinan dan pemiskinan dalam segala hal. Bangsa kalian memang masih miskin dan tugas kalian adalah memerangi setiap upaya pemiskinan. Kalian mesti turun ke jalan membawa obor penerangan, memberikan pencerahan dan bimbingan agar bangsa kalian bisa melangkah ke pemukiman baru, yakni era tinggal landas menuju peradaban yang kita dambakan.
Pemukiman baru itu, akan penuh dengan keruwetan dan kekusutan seperti kusut dan ruwetnya kabel-kabel telekomunikasi, informasi, dan komunikasi. Pemukiman baru itu juga diwarnai keruwetan dan kekusutan pikiran, peradaban, dan kebudayaan. Tugas kalian adalah membenahi pemukiman kumuh itu dengan karya-karya nyata. Kalian juga harus membersihkan selokan pikiran yang mampet dan kotor. Kalian harus menata dan menatap masa depan dengan tatanan yang serasi, selaras, dan seimbang sehingga pemukiman baru itu benar-benar nyaman.
Pemikaman baru itu, tidak lagi memerlukan orang sepertiku yang sejak kanak-kanak telah mati. Biarkanlah aku mati. Kalian tidak perlu larut dalam duka berkepanjangan, sebab pemukiman baru yang akan kita huni nanti bisa gersang tanpa siraman keindahan, kebaikan, kearifan, dan moral kita”.
Kututup catatan itu dengan linangan air mata. Aku makin tak berdaya. Terkulai, kemudian sebagai embun terkena terik matahari aku menguap. Lenyap.

Cerita Mini (CerMin)

KEMATIAN ILUSI
Listrik mati. Jambi benar-benar gelap dan pekat. Di angkasa tiada terlihat seberkas cahaya memintas. Galaksi dan bintang seakan larut dalam suasana duka yang maha dalam. Terompet sangkakala baru saja melengking-lengking. Itu pertanda tangan-tangan maut baru saja melunaskan tugasnya menjemput dan merenggut nyawa insan-insan yang terlena. Ilusi mati saat matahari tergelincir dan tenggelam di pangkuan malam. Empat orang anaknya—Puisiwati, Cerpenita, Novelia, dan Draomai tak henti-henti melafazkan berzanji, zikir, dan doa dengan harapan perjalanan ibunya menuju pemukiman baru berjalan lancar.
“Ibu, malam memang kelam. Hitam dan legam. Namun, hanya di kelam malam kami punya harapan melihat seberkas cahaya. Cahaya Maha Cahaya yang sebagai tangga dapat mengantarkan perjalananmu menuju pemukiman abadi. Kudoakan semoga Tuhan berkenan memberikan lahan perumahan bagi roh cintamu, ibu.” Terdengar puisiwati melantunkan doa-doa dengan sikap khidmat, ”dari Hamzah Fansuri hingga Amir Hamzah; dari Chairil, Tardji, hingga Malna berderet mayat-mayat kata.”
 “Kuharap kiamat belum terlalu dekat, Ibu,” Cerpenita menyampaikan harapannya di ujung kaki Ilusi. “Bumi memang keras. Keras dan panas, Ibu, lantaran nurani manusia kini mulai meranggas. Kering dan gersang dipanggang api kehidupan, nyala keduniawian. Kuharap Tuhan masih berkenan memberikan ampunan bagi kami yang tinggal di dunia fana, dunia maya.”
“Berabad-abad engkau melangkah, Ibu. Melangkah di atas tanah-tanah rekah dengan nafas terengah-engah. Di raut wajahmu yang biru, kulihat engkau sering terperangah mamandang kegersangan jiwa bangsa kita yang jauh dari nilai-nilai terpuji. Novelia berjanji, Ibu, untuk meneruskan cita-citamu untuk memberikan kesejukan setiap insan dengan sentuhan nilai-nilai keindahan, nilai-nilai keimanan, nilai-nilai peradaban. Novelia mohon restumu, Ibu, untuk selalu mengingatkana “Bumi Manusia”, ‘Anak Segala Bangsa’, seperti ‘Sri Sumarah’ dan ‘Bawuk’ memandang ‘Kunanng-kunang di Manhattan’, atau seperti ‘Rafilus’ dan ‘Olenka’ ketikan barhadapan dengan ‘Para Priyayi’. Seperti sebelumnya, romo Mangun menrekronstruksi ‘Durga Umayi’, ‘Burung-burung Rantau’, atau ‘Burung-burung Manyar’.” Novelia terengah dan pasrah,”Perjalanan bangsa ini memang berat dan penat. Persoalan besar masih menghadang di ujung jalan: bumi makin sempit dan manusia terhimpit oleh aneka penyakit hipokrit. Novelia berdoa semoga Ibu dapat beristirahat di pemukiman baru.”
Draomai yang duduk suntuk di sisi Ilusi berdesah, ”Kuakui ini tragedi, Ibu. Lakon tragedi tak henti-henti. Semua ini akibat trauma bangsa ini menghadapi ketakutan demi ketakutan, kutukan demi kutukan, dan kengerian-kenyerian yang sengaja diskemakan.tragedi ini masih terus berkepanjangan. Trauma ini makin meresap di kedalaman hati insan-insan. Terus terang, aku ngeri menghadapi semua itu, Ibu.”
Demikianlah, kematian Ilusi malam itu benar-benar menciptakan suasana duka bagi keempat anak-anak yang merangkak menuju alam kedewasaan. Langit masih hitam dan legam. Suasana berkabung atas kematian Ilusi menyeruak sepanjang gang, tanah lapang dan lahan gersang. Sepi menyanyi dan menyileti bingkai-bingkai hati. Puisiwati, Cerpenita, Novelia, dan Draomai tunduk terduduk diaduk aneka pikiran berkecamuk.

Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, Jambi Akhir 2009

Cerita “Gatotkaca” (Gagal Total Kagak terbaCA)

Dimas Arika Mihardja

Cerita “Gatotkaca” (Gagal TOtal Kagak terbaCA)

SURAU tua berdinding anyaman bambu itu menjadi tempat paling nyaman saat aku menghadapi masalah. Pada balai-balainya aku baringkan tubuh lusuh. Pandanganku lekat di atap yang renggang, hingga celah cahaya purnama menyeruak masuk. Pikiranku berkecamuk. Di dalam hati ada yang mengamuk. Sendiri aku telentang memandang bias cahaya bulan dari sela atap rumbia yang telah bodol lantaran tuanya. Aku mendengar suara. Suara itu semula samar, lalu menegas dan keras.

Hembusan dingin angin menerpa kuduk. Aku terduduk. Pikiran terus berkecamuk. Hati remuk. Suntuk. Tapi mata tak juga mengantuk. Dalam remang, kulihat bayang mengendap dalam senyap. Bayang itu kian memanjang dan tangannya menjangkau ke leherku. Aku berteriak. Serak. Tercekik. Berontak. Meronta. Tapi tenaga entah raib ke mana. Bayang itu lalu mendekat. Hatiku tercekat. Lidah kelu. Mata dadu.

"Siapa Engkau," tanyaku dalam getar ketakutan.
"Aku adalah kamu yang dicekam kegelisahan"

Bayang-bayang itu, yang mengaku diriku, lekat menatapku.
Gelisah.
Resah.
Tak tentu arah.
Aku terengah-engah. Meronta. Tak bisa. Berdesah.
Gelisah.
Resah.
Tak tahu arah.

"Geeeeeeerrrrrghhhhh," suara bayang itu mulai terdengar jelas. Parau. Kacau.

Kacau.
Parau.
Kacau.
Parau.
Kacau balau.
Hatiku terkacau oleh kecamuk.
Rasa remuk.
Pikiranku diacak-acak rasa risau.

"ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh"
"auuuuuuuuuuuuuuw auuuuuuuuuuuuuuuw"

Purnama bugil bulat. Aku bergumuldengan bayang itu. Tindih-menindih. Bergulingan. Saling banting. Melihat cahaya purnama aku berubah serigala. Mengaum. Mencium aroma bunga. Mabuk. Merasuk. Aku mengaca pada bayang.Taring memanjang. Siap menerkam. Mengasah kuku-kuku. Mengasuh nafsu-nafsu

"auwwwwwwwwww auwwwwwwwwww auwwwwwwww"

(maka cerita GATOTKACA --Gagal Total Kagak terbaCa, selesai sudah, maaf, lantaran lelah mungkin dan hampir dipastikan tak akan dilanjutkan)

HAI PEMBACA, MAAF YE TELAH MENGANGGU KESEMPATAN BERHARGA HANYA UNTUK MEMBACA CERITA YANG GAGAL TOTAL INI

daripada pusing, NYANYI AJALAH:

malam minggu malam yang panjang
malam yang asyik buat pasaran
pasar baru, baru kenalan
kenal di jalan jendral sudirman

Reff (ulang sampai 99 x):
jatuh cinta ayo ta...
tahan lama ayo ma...
mati aku ayo ku....
kurang bumbu....
bukakan pintu.....uuuu ...uuu
mak, bukan anu...anu...ehm...maksudku buka pintu mak...

[Ditulis di malam Minggu saat tak duduk denganmu]